PERANAN KONSEP MANAJEMEN INDUSTRI PADA PT. AKFI
DI DESA LAHA
LAPORAN
PRAKTEK MANAJEMEN INDUSTRI
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
Ketua : Iramaya S. Lewenussa (2008-68-021)
Anggota :
1. Sarbia (2008-68-025) 5. Betsy Letwar ( 2009-68-035)
2. La Noho Wandoka (2008-68-020) 6. Rubeca Ch. Pattimuka (2009-68-022)
3. Joan Labetubun (2008-68-001) 7. Maya H. Ambon (2009-68-004)
4. Lolita Tuhumenna (2009-68-033)
PROGRAM STUDI AGROBISNIS PERIKANAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2011
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktek manajemen industri dengan judul “Peranan Konsep Manajemen Pada PT. AKFI di Desa Laha“, dapat diselesaikan dengan baik.
Dengan penuh kerendahan hati yang tulus, perkenankanlah penulis sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan laporan praktek ini.
Demikian juga ucapan yang sama penulis tujukan kepada semua informasi/ responden yang telah memberikan bantuan sehingga memungkinkan terwujudnya pembuatan laporan praktek ini.
Praktek ini dilakukan pada bulan Juni 2011, bertujuan untuk mengetahui peranan konsep manajemen industri pada PT. AKFI.
Penulis sadar dalam penyelesaian laporan praktek ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan penulisan ini ke depan.
Akhir kata semoga Laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Ambon, Juni 2011
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBARAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktek
1.3 Manfaat Praktek
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Perikanan
2.2 Manajemen Usaha
2.2.1 Aspek Produksi
2.2.2 Aspek Pemasaran
2.2.3 Manajemen Operasi
BAB III METODOLOGI PRAKTEK
3.1 Metode Penelitian
3.2 Metode Pengumpulan Data
3.3 Metode Pengambilan Sampel
3.4 Tempat dan Waktu Praktek
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTEK
4.1 Kondisi Geografis
4.2 Keadaan Sosial
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Perusahan AKFI
5.2.Manajemen Organisasi
5.3 Teknik Produksi dan Operasi
5.4 Manajemen Pemasaran
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di dalam usaha perikanan dikenal 3 jenis bidang usaha. Bidang usaha perikanan yang dimaksud yaitu sumber daya air (sumber daya alam), sumber daya ikan, sumber daya manusia sebagai pelaku usaha perikanan (terdiri dari nelayan, pembudidayan ikan dan pengolah hasil perikanan), serta sumber daya buatan yang mencakup fasilitas dan teknologi (Effendi dan Oktariza, 2006).
Karakteristik geografis dan kandungan sumber daya kelautan dan perikanan yang dimiliki Indonesia memberikan pengakuan (justifikasi) bahwa Indonesia merupakan Negara bahari dan kepulauan terbesar di Dunia dengan keanekaragaman hayati yang tinggi (mega-biodiversity). Fakta ini menunjukkan bahwa sector kelautan dan perikanan merupakan sector yang memiliki peluang yang sangat potensial untuk dimanfaatkan dan dikelola guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional (Laiweheriwa, 2008)
Maluku merupakan Provinsi kepulauan dengan luas wilayahnya 712.479,69 km2 terdiri dari 93,5 % luas perairan (666.139,85 km2) dan 6,5 % luas daratan (46.339,85 km2). Total jumlah pulau yang ada teridentifikasi di Maluku mencapai 1.340 pulau dengan panjang garis pantai mencapai 10.630,1km (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2007).
Dengan memiliki bentangan laut yang luas, laut di perairan Maluku menyimpan kekayaan laut yang sangat besar dan potensial, baik berupa sumber daya perikanan maupun pertambangan. Kekayaan tersebut merupakan modal besar bagi daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga memposisikan daerah ini pada fokus pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Berbagai cara dilakukan untuk pemanfaatan sumber daya secara optimal, mulai dari penangkapan, pembudidayaan sampai pada pengolahan hasil perikanan. Dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan di Maluku.
Kegiatan penangkapan di laut merupakan salah satu bentuk kegiatan usaha yang dilakukan oleh nelayan dengan tujuan untuk memanfaatkan sumber daya hayati laut, khususnya sumber daya ikan dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat melalui konsumsi pangan hewani sekaligus juga sebagai upaya peningkatan pendapatan nelayan (Opier, 2009).
Pada dasarnya sifat komoditi perikanan khususnya ikan sangat cepat mengalami penurunan mutu. Untuk itu dibutuhkan suatu penanganan agar kualitas atau mutu ikan tetap terjaga. Salah satu penanganan yang dapat di lakukan yaitu dengan menggunakan cold storge. Cold storge merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri perikanan.
Secara umum usaha perikanan di laut dihadapkan dengan masalah ketidakpastian produksi, penggunaan investasi dan biaya operasional yang relatif tinggi sehingga dalam pencapaian keberhasilan secara komprehensif pada usaha yang dijalankan perlu diterapkan manajemen yang baik, jika keberhasilan dan pengembangan usaha ingin dicapai (Shinta, 2010).
Manajemen produksi dan menajemen operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaaan sumberdaya-sumberdaya (faktor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya melalui proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk atau jasa. Para manajemen produksi dan operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen (Handoko, 1984).
Dalam kaitannya dengan pemaparan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan praktek Mata kuliah Manajemen Industri dengan judul “ Peranan Konsep Manajemen Industri Pada PT. AKFI, di Desa Laha “.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum manajemen industri, yaitu:
1. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang lokasi perusahaan (industri) yang lebih menguntungkan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui tata cara penyusunan mesin-mesin dan peralatan produksi (layout).
1.3 Manfaat Praktikum
Hasil dari praktek ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :
1. Bahan informasi dan pertimbangan bagi pemilik (pengolah) usaha perikanan tangkap.
2. Bahan informasi untuk pengembangan ilmu di bidang agrobisnis perikanan dan kelautan.
3. Proses untuk penambahan pengetahuan dan pemahaman tentang peranan konsep manajemen industri dalam sebuah industri perikanan.
4. Bahan infornasi dan pertimbangan bagi pemerintah dan instansi terkait dalam penyusunan kebijakan pembangun ke depan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha perikanan
Usaha perikanan adalah suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Komponen-komponen tersebut adalah ikan sebgai sumber daya hayati, perairan sebagai sumber daya alam, nelayan sebagai produsen, pengolah, lembaga pemasaran serta masyarakat umum selaku konsumen akhir (Hermanto dan Bahansyah dikutip oleh Mandak, 2004).
Usaha perikanan mencakup semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya memperoleh keuntungan dan tidak terbatas hanya pada usaha penangkapan ikan tetapi juga menyangkut waktu yang tersita untuk mencari ikan, berlayar dari bandar ke lumbuk ikan serta pengolahan ikan di laut.
Menurut Effendi dan Oktariza (2006), jenis usaha perikanan dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Perikanan tangkap merupakan kegiatan memproduksi ikan dengan menangkap atau capture dari perairan darat, seperti sungai, muara sungai, waduk dan rawa serta perairan laut, seperti perairan pantai atau laut lepas.
2. Perairan akuakultur (perikanan budidaya) merupakan kegiatan memproduksi ikan dalam suatu wadah terkontrol dan berorientasi kepada keuntungan.
3. Pengolahan perikanan bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan baik yang berasal adri perikanan tangkap maupun akuakultur.
Usaha perikanan diharapkan mampu memasok produknya dalam rangka memenuhi pernintaan produk perikanan sejalan dengan menigkatnya populasi manusia di dunia. Upaya untuk menjawab tantangan tersebut tengah dan sudah dilakukan, salah satunya dengan mengenjot produksi (Effendi dan Oktariza, 2006).
Usaha perikanan memiliki beberapa keuntungan, diantara lain sebagai berikut :
1. Ikan sebagai makanan sehat untuk konsumsi memiliki permintaan yang cenderung meningkat.
2. Perikanan terutama akuakultur dan pengolahan perikanan, merupakan sektor yang sedang berkembang dengan laju relatif cepat.
3. Potensi perikanan Indonesia sangat besar dengan ribuan pulau dan luas lautannya, termasuk keragaman hayati yang besar sehingga lebih banyak pilihan tipe, komoditas dan lokasi usaha perikanan.
4. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak merupakan pasar potensial yang baru digali sebagian kecil saja sehingga peluang pengembangan pasar masih sangat diperlukan.
5. Indonesia berada di kawasan tropis dengan sinar matahari tersedia sepanjang tahun sehingga kegiatan produksi bisa berkembang sepanjang tahun.
6. Agrobisnis perikanan terdiri dari on form dan menghasilakan lebih banyak lagi pelaku off form. Sehingga banyak pilihan usaha di kedua level agrobisnis perikanan tersebut.
7. Kecenderungan politik nasional yang mulai memperhatikan potensi kelautan, termasuk di dalamnya kegiatan perikanan.
2.2 Manajemen Usaha
Manajemen usaha adalah proses tertentu yang terdiri dari kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan sumberdaya manusia dan sumberdaya lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu usaha ataupun perusahaan (Bahry, 2000).
Dalam menjalankan suatu usaha perikanan membutuhkan membutuhkan kemampuan menajerial untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik, sehingga semua orang yang berkerja serta fasilitas yang tersedia benar-benar dapat digerakan dan diarahkan tujuan yang efisien dan seekonomis mungkin.
Fungsi-fungsi manajemen itu antara lain :
1. Fungsi perencanaan (planning)
Fungsi perencanaan adalah pemikiran rasional berdasarkan fakta atau perkiraan yang mendekat sebagai persiapan untuk keperluan tindakan kemudian (Bahry,2000)
2. Fungsi pengorganisasian (Organizing)
Fungsi perorganisasian merupakan tindakan membagi-bagi dan merinci bidang pekerjaan atas sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Dalam membagi tugas kerja perlu diperhatikan jumlah, kemampuan, volume kerja yang harus dilaksanakan, sehingga pembagian kerja itu praktis, workable dan memudahkan tercapainya tujuan (Bahry, 2000).
3. Fungsi pengarahan (directing)
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang berkiatan dengan usaha memberikan bimbingan, binaan, perintah-perintah, atau instruksi-instruksi pada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing agar dapat berjalan dengan baik dan tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan (Bahry, 2000)
4. Koordinasian (coordinating)
Fungsi ini berupa usaha-usaha penyatuan langkah dari semua pihak dalam suatu usaha dengan maksud merangsang anggota-anggota kelompok agar melaksanakan tugas-tugas yang telah dibebankan dengan baik dan antusias (Bahry, 2000)
5. Fungsi pengawasan (controling)
Fungsi ini merupakan tindakan untuk mengawasi aktivitas-aktivitas agar dapat berjalan sesuai dengan rencana-rencana yang telah ditetapkan (Effendi dan Oktariza, 2006).
2.2.1 Aspek Produksi
Produksi diarikan sebagai cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambahkan kegunaan sautu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana yang ada (Assauri dikutip Shinta,2002).
Manajemen produksi mencakup perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi. Didalamnya terdapat pula pengambilan keputusan dalam bidang persiapan dan prose produksi untuk jangka pendek, menengah dan panjang.
2.2.2 Aspek Pemasaran
pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan diinginkan dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dengan pihak lain (Kasmir dan Jakfar, 2006).
kegiatan manajemen disini mencakup kegiatan untuk mendistribusikan hasil produksi ke tangan konsumen. kegiatan tersebut seperti menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemasaran yang harus dijalankan (Effendi dan Oktariza, 2006).
2.3 Manajemen Operasi
Manajemen industri disebut juga dengan manajemen operasi. Manajemen operasi atau manajemen industri merupakan usaha-usaha pengelolahan secara optimal penggunaan sumberdaya-sumberdaya atau faktor-faktor produksi dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk dan jasa
2.3.1 Penentuan Lokasi Fasilitas-fasilitas produksi
Perusahaan secara terus-menerus membangun berbagai fasilitas baru dan memperluas yang sudah ada. Kegiatan-kegiatan ini melibatkan sejumlah investasi dalam konstruksi dan peralatan atau mesin dengan biaya yang sangat besar. Walaupun penentuan lokasi perusahaan yang tepat tidak selalu sangat penting. Tetapi, bagaimanapun juga penempatan fasilitas-fasilitas yang baik akan membantu perusahaan untuk meminimkan biaya-biaya.
Pemilihan lokasi berarti menghindari sebanyak mungkin seluruh segi-segi negatif dan mendapatkan lokasi dengan paling banyak faktor-faktor positif. Penentuan lokasi yang tepat akan meminimumkan beban biaya (investasi dan operasional) jangka pendek maupun jangka panjang, hal ini akan meningkatkan daya saing perusahaan.
Tahapan-tahapan pemilihan lokasi :
· Tahapan Pertama
Melihat kemungkinan daerah yang ditentukan sebagai alternatif dengan melihat ketentuan dari pemerintah. Pertimbangan pada tahap ini adalah jenis proses produksi, jenis hasil produksi.
· Tahapan Kedua
Melihat pengalaman orang lain atau pengalaman sendiri. Pada bagian ini jenis hasil produksi, proses pengerjaannya akan menentukan kekhususan pabrik tersebut.
· Tahapan Ketiga
Pada tahap ini, mempertimbangkan sikap masyarakat pada daerah kedua yang dianggap menguntungkan. Penilaian ini dilakukan dengan approximasi atau pendekatan dan bukan hanya berdasarkan informasi atau keterangan-keterangan.
2.3.2 Desain Fasilitas dan Layout
Manajemen Produksi dan operasi mencakup penyedian dan pemeliharaan bangunan-bangunan dan berbagai pelayanan yang dibutuhkan untuk menempatkan, menyimpan, melindungi, dan melayani orang-orang dan mesin-mesin yang digunakan untuk membuat berbagai produk dan menyediakan berbagai jasa.
Fasilitas-fasilitas produktif hendaknya fleksibel dan dapat menyesuaikan secara mudah dengan perusahaan-perusahaan operasi. Layout fasilitas harus dirancang untuk memungkinkan perpindahan yang ekonomis dari orang-orang dan bahan-bahan dalam berbagai proses dan operasi perusahaan. Jarak angkut hendaknya sependek mungkin dan pengembalian serta peletakan produk-produk dan peralatan-peralatan diminimumkan. Hal ini seharusnya menghasilkan minimisasi biaya penangan dan transportasi, seperti juga penurunan waktu proses kerja dan mesin menganggur.
Penentuan layout peralatan dan proses produk meliputi pengaturan letak fasilitas-fasilitas operasi termasuk mesin-mesin, personalia, bahan-bahan, pelengkapan untuk operasi, penangan bahan, dan semua peralatan serta fasilitas untuk terlaksanakannya proses produksi dengan lancar dan efisien. Penentuan letak fasilitas-fasilitas produksi dalam erat hubungannya dengan pendirian bangunan pabrik.
BAB III
METODOLOGI PRAKTEK
3.1 Metode Praktek
Metode yang digunakan praktek ini adalah metode survei. Di mana wawancara dilakukan secara langsung dengan menggunakan kuisioner kepada pemilik (pengolah) usaha Cold storge.
Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keteranagan secara faktual. Metode survei dapat memberikan manfaat untuk tujuan-tujuan yang bersifat deskriptif, membantu kondisi-kondisi yang telah ditentukan sebelumnya (Nazir, 2003).
3.2 Metode Pengumpulan
Sumber data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara secara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner).
Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait berupa kantor kepala Desa Laha Kecematan teluk, serta literatur-literatur yang menunjang praktek ini.
3.3 Metode Pengambilan Sampel
Sampel yang diambil dalam praktek ini adalah pemilik yang masih aktif menjalankan usaha Cold storge di Desa Laha.
Metode yang digunakan dalam praktek ini adalah metode sampling jenuh atau exhausting sampling method. Metode sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang (Sugiono, 2004).
3.4 Tempat dan Waktu Praktek
Praktek mata kuliah manajemen industri dilakukan di perusahaan AKFI di Desa Laha pada hari kamis tanggal 23 Juni 2011.
BAB IV
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Keadaan Geografis
4.1.1. Letak dan batas wilayah
Desa laha terletak di pulau Ambon, tepatnya terletak diujung teluk Ambon yang dibatasi oleh tanjung Alang dan tanjung Nusaniwe. sesuai peraturan pemerintah Nomor tahun 1979 luas wilayah kota ambon seluruhnya 377 km. Desa laha memiliki luas 1,700,00 ha, jarak yang dapat ditempuh dari pusat kota sejauh 37 km. Desa laha dapat di jangkau dari kota Ambon melalui transportasi darat dengan mengendarai kendaraan umum. Desa laha secara astronomis berada pada posisi 03042’15”-03042’20” LS dan 128006’13”-128006’21”BT selain itu, secara geografis berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:
Sebelah utara : Berbatasan dengan Desa Tawiri
Sebelah Selatan : Berbatasn dengan Desa Hatu
Sebelah Timur : Bebtasan dengan Teluk Ambon
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Kaitetu
4.1.2. Topografi
Topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal. Wilayah kota Ambon sebagian besar terdiri dari daerah dataran dengan kemiringan sekitar 10 persen seluas 55 km atau 17 persen dari luas seluruh wilayah daratan. Desa laha terletak di pesisir pantai, posisi laut Desa laha membentuk teluk. Diman kehidupan masyarakat banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan, nelayan yang mahir dalam membuat perahu dan cara penangkapan ikan yang masih bersifat tradisional dan sebagian penduduk masih bercocok tanam.
4.1.3. Iklim
Secara keseluruhan iklim di Kota Ambon adalah iklim laut tropis dan iklim musim, karena letak pulau Ambon dikelilingi oleh laut. Oleh karena itu iklim disini sangat dipengaruhi oleh lautan dan berlangsung bersamaan dengan iklim musim, yaitu musim barat atau utara dan musim Timur atau Tenggara. Pergantian musim selalu diselingi oleh musin pancaroba yang merupakan transisi dari dua musim tersebut. Musim Barat umumnya berlangsung dari bulan Desember sampai dengan bulan Maret, sedangkan pada bulan April merupakan masa transisis ke musim Timur dan musim timur berlangsung dari bulan mei sampai oktober di susul dengan masa pancaroba pada bulan November yang merupakan transisi ke musim barat.
4.2. Keadaan Sosial
4.2.1 Penduduk
Jumlah penduduk merupakan faktor dominan dalam pembangunan. Jumlah penduduk Desa Laha pada 2010 tercatat jumlah penduduk sebanyak 3693 jiwa, dan jumlah rumah tangga sebanyak 129 KK. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Laha
No | Jenis Kelamin | Jumlah | Persentase |
1 | Laki-laki | 1957 | 52,99 |
2 | Perempuan | 1736 | 47,01 |
Jumlah | 3693 | 100 | |
Sumber : Kantor Desa, 2010
4.2.2 Pendidikan
Pendidikan merupakan salah pilar penting dalam meningkatkan sumberdaya manusia (Tamarale, 2010). Sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman. Hal tersebut harus didukung dengan pembangunan berbagai fasilitas pendidikan formal.
Pada tahun 2010 tercatat jumlah sekolah yang gterdapat di Desa Laha sebanyak 15 sekolah, diantaranya, taman kanak-kanak 3 buah, sekolah dasar sebanyak 3 buah, sekolah menengah pertama sebanyak 2 buah dan sekolah menengah umum sebanyak 2 buah.
4.2.3 Mata Pencaharian
Sebagian besar masyarakat di Desa Laha bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini, sesuai dengan luas wilayah yang sebagian besar merupakan daerah pertanian. Selain bertani ada juga yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.
No | Mata Pencaharian | Jumlah | Persentase |
1 | Petani | 135 | 26,32 |
2 | Nelayan | 128 | 24,95 |
3 | Pedagang | 45 | 8,77 |
4 | Tukang | 85 | 16,57 |
5 | PNS | 91 | 17,74 |
6 | Pegawai Swasta | 18 | 3,51 |
7 | Pengemudi | 11 | 2,14 |
Jumlah | 513 | 100 | |
Sumber : kantor Desa, 2010
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Perusahaan AKFI
AKFI atau Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry merupakan salah satu perusahaan industri yang bergerak di bidang perikanan, yang di dirikan pada tahun 2007 dan masih beroperasi sampai sekarang. Lokasi PT. AKFI terletak di kompleks AURI, Desa Laha Kecamatan Teluk Ambon. Modal kerja dan investasi yang digunakan untuk menjalankan usaha ini adalah milik pribadi, dan tidak pernah tersentuh bantuan oleh pemerintah atau instansi terkait. Selain itu, perusahaan ini merupakan usaha yang legal secara hukum karena sebelum usaha ini di jalankan telah memiliki ijin usaha dalam hal ini mengenai izin lokasi dan SITU. Usaha ini termasuk dalam usaha skala besar karena pemasaran hasil produksinya mampu menjangkau pasar internasional dan dapat bersaing di dunia industri.
Hal inilah yang membuat PT. AKFI menjadi salah perusahaan yang di andalkan di Kota Ambon, karena usaha ini terus mengalami perkembangan dan peningkatan produksi dari tahun ke tahun.
Dengan demikian usaha ini juga turut andil dalam peningkatan pendapatan daerah, perluasan lapangan kerja serta dapat meningkatkan kesejahteraan dalam hal ini tenaga kerja.
5.2 Manajemen Organisasi
Manajemen adalah kegiatan atau usaha untuk mencapai suatu tujuan dengan mengkoordinir kegiatan orang lain. Dalam menjalankan suatu usaha perikanan membutuhkan membutuhkan kemampuan menajerial untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik, sehingga semua orang yang berkerja serta fasilitas yang tersedia benar-benar dapat digerakan dan diarahkan tujuan yang efisien dan seekonomis mungkin. Fungsi-fungsi tersebut yaitu fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengarahan, fungsi koordinasian, dan fungsi pengawasan.
Manajemen organisasi merupakan suatu usaha atau kegiatan dalam mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tindakan membagi-bagi dan merinci bidang pekerjaan atas sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Dalam membagi tugas kerja perlu diperhatikan jumlah, kemampuan, volume kerja yang harus dilaksanakan, sehingga pembagian kerja itu praktis, workable dan memudahkan tercapainya tujuan.
PT. AKFI merupakan salah satu usaha industri perikanan yang modal investasinya berasal dari modal sendri (modal pribadi), yang beroperasi sejak tahun 2007 sampai sekarang. Dalam mengelolah usaha yang dijalankan, PT AKFI lebih banyak menggunakan tenaga kerja dari daerah di sekitar perusahaan tersebut berada (Desa Laha). Selain itu, PT AKFI sangat selektif dalam mempekerjakan karyawan sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing.
Jumlah karyawan yang bekerja di PT AKFI ± 300 orang, dengan bagian atau unit yang mendukung operasi usaha ini terdiri dari 4 devisi yaitu manajemen operasi, manajemen teknik, manajemen logistik, dan manajemen processing. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.
Komisaris (Asman) |
Direktur
(Alwi Hadad)
M. Operasi M. Teknik M. Logistik M. Processing
(Muhanan) (Kudibeng) (Joni) (Watan)
- Kabag, - Mesin (Feri) Pabrik Es - Kabag CS
(teguh)
administ. Kapal - Sipil (Joni) (Supri) - Kabag ARF
(Rudi) (Adnan)
- Kabag Dermaga - Listrik (Adios) - Inspektur QC
(Yulan) (Taher)
Gudang (markus)
Karyawan |
Administrasi Umum (Personalia) (Nia)
Gambar 1. Bentuk Organisasi PT. AKFI
5.3 Teknik Produksi Atau Operasi
A. Plant Location
Tujuan dari penentuan lokasi atau plant location suatu usaha dengan tepat adalah untuk membantu perusahaan beroperasi atau berproduksi dengan lancar, efektif dan efisien.
Manfaat dari penentuan lokasi perusahaan yaitu:
1. Kemampuan melayani konsumen dengan memuaskan.
2. Mendapatkan bahan mentah yang cukup dan kontinu dengan harga yang layak.
3. Mendapatkan tenaga buruh yang cukup.
4. Memungkinkan diadakannya perluasan pabrik dikemudian hari.
Ada 2 faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi PT. AKFI, yaitu:
1. Faktor Primer
Antara lain:
a. Letak dari pasar
PT. AKFI selain memasarkan produknya ke luar daerah, juga menjual produknya kepada ibu jibu-jibu di sekitar lokasi perusahaan (Desa Laha).
b. Letak dari sumber bahan mentah
Dilihat dari lokasi perusahan PT. AKFI yang berdekatan dengan pantai, ini menunjukan bahwa perusahan ini dekat dengan bahan mentah.
c. Terdapat fasilitas pengangkutan
Untuk mempermudah pengangkutan bahan mentah masuk perusahan, maka dibutuhkan fasilitas pengangkutan. Hal ini juga terdapat di PT. AKFI. Fasilitas pengangkutannya berupa, truk, grobak dan lain-lain.
d. Suplay dari buruh (tenaga kerja)
Suplay tenaga kerja atau buruh yang terdapat di PT. AKFI relatif banyak. Hal ini dilihat dari jumlah karyawan yang dipekerjakan ± 300 orang.
e. Terdapat pembangkit tenaga listrik.
Untuk memperlancar proses operasi atau produksi, maka pembangkit tenaga listrik merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang atau memperlancar proses tersebut. Hal yang sama juga dibutuhkan oleh PT. AKFI, dalam memperlancar proses produksi, seperti PLN.
2. Faktor Sekunder
a. Rencana masa depan
Pada dasar semua pelaku usaha mempunyai rencana masa depan. Rencana yang dimaksud adalah untuk mengembangakan usaha lebih baik lagi dan dapat memaksimumkan profit usaha. Begitu juga rencana masa depan yang di inginkan oleh Usaha industri PT. AKFI, di Desa Laha.
b. Persedian Air
Air juga merupakan faktor yang sangat penting untuk usaha PT. AKFI. Persedian air di perusahan ini cukup memadai.
c. Masyakarat yang ada di daerah perusahan tersebut
Berdasarkan hasil survei terhadap masyarakat di sekitar perusahan tersebut (Desa Laha), menunjukkan bahwa masyarakat merasa nyaman dengan adanya pendirian perusahan tersebut. Karena menurut masyarakat, dengan adanya pendirian perusahan tersebut, juga dapat memberikan dampak positif atau manfaat yang tidak langsung.
d. Iklim
Secara umum usaha perikanan di laut dihadapkan dengan masalah ketidakpastian produksi, salah satunya iklim. Hal ini sangat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan para pelaku perikanan. Pada musim timur, jumlah hasil tangkapan relatif sedikit dibandingkan pada musim barat. Hasil tangkapan tersebut juga mempengaruhi produksi PT. AKFI.
B. Produksi
Jenis komoditi perikanan yang diproduksi oleh PT. AKFI yaitu berupa momar, ikan komu, dan ikan mahi (lamadang). Bobot berat komoditi yang di produksi untuk ikan kecil kurang dari 0,5 Kg, sedangkan untuk jenis komoditi yang besar lebih dari 0,5 Kg. Harga produk ikan per kilogram untuk lokal sebesar Rp. 12.000, sedangkan untuk luar daerah melalui sistem kerjasama, kemudian keuntungannya dibagi setelah produk dipasarkan ke luar negeri.
Untuk proses produksinya, setelah melewati proses pemilaan atau pemisahan untuk jenis ikan yang berukuran besar dan kecil, maka untuk jenis ikan yang berukuran besar di lakukan ABF (air blest frezer) setelah itu di sortir beku dan di masukan ke dalam karung dengan berat beban 30 Kg, kemudian di berikan es. Sedangkan untuk jenis ikan kecil, setelah dilakukan ABF, kemudian di lakukan pemapakan ke dalam karton atau master karton.
Pada poses pemapakan untuk produk yang akan di pasarkan diberi perbedaan. Dengan tujuan untuk mempermudah dan menghindari terjadinya kesalahan dalam proses pengiriman atau pemasaran nanti. Untuk produk yang akan di ekspor diikat dengan tali yang berwarna hitam, sedangkan untuk lokal talinya berwarna biru. Gambaran Proses Produksi pada PT. AKFI dapat dilihat pada gambar 2.
Kapal Jaring |
Kapal Penampung |
Dermaga |
Bongkar |
Blog Biru/tong |
Meja Sortir 1 |
Mobil |
Ikan Besar |
Ikan Kecil |
Meja Sortir 2 |
Gambar 2. Proses PT. AKFI
5.4 Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan diinginkan dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dengan pihak lain (Kasmir dan Jakfar, 2006).
Kegiatan manajemen disini mencakup kegiatan untuk mendistribusikan hasil produksi ke tangan konsumen. kegiatan tersebut seperti menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemasaran yang harus dijalankan (Effendi dan Oktariza, 2006).
Tujuan pasar produk dari PT. AKFI, untuk daerah lokal yaitu kota Ambon, sedangkan untuk luar daerah yaitu Jakarta dan Bali. Produk yang di pasarkan ke Jakarta dan Bali, selanjutnya akan di ekspor ke luar negeri.
Rantai pemasaran dapat di lihat pada gambar 3.
Cold Storage |
Ekspor |
Lokal |
Pasar |
Kapal Kargo |
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktek yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. PT. AKFI merupakan salah satu usaha industri perikanan yang modal investasinya berasal dari modal sendri (modal pribadi), yang beroperasi sejak tahun 2007 sampai sekarang. Dalam mengelolah usaha yang dijalankan, PT AKFI lebih banyak menggunakan tenaga kerja dari daerah di sekitar perusahaan tersebut berada (Desa Laha).
2. Ada 2 faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi PT. AKFI yaitu, faktor primer berupa letak dari pasar, letak dari bahan mentah, terdapat fasilitas pengangkutan, suplay dari buru atau tenaga kerja yang tersedia dan terdapat pembangkit tenaga listrik. Sedangkan faktor sekunder berupa, rencana masa depan, persedian air, masyarakat di sekitar daerah atau lokasi perusahan serta iklim.
3. Tujuan pasar produk dari PT. AKFI, untuk daerah lokal yaitu kota Ambon, sedangkan untuk luar daerah yaitu Jakarta dan Bali. Produk yang di pasarkan ke Jakarta dan Bali, selanjutnya akan di ekspor ke luar negeri.
6.2 Saran
Perlu perhatian yang serius dari pemerintah setempat maupun instansi terkait terhadap usaha yang dijalankan, dalam hal pemberian bantuan modal serta bentuk-bentuk bantuan lainnya dalam rangka membantu mengembangkan usaha ini ke depan.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, I dan Oktariza W. 2006. Manajemen Agrobisnis Perikanan. PT Swadaya, Jakarta.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. PT Ghalia Indonesia, Jakarta.
Dinas Kelautan dan Perikanan 2007. Laporan Tahunan 2007, Ambon.
Shinta, D. 2010. Pengolahan Usaha Perikanan Rurehe ( Pole and Line ) di Negeri Luhu Kab. Seram Bagian Timur. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Universitas Pattimura. Ambon.
Mandak, Y. 2004. Tingkat Kesejahteraan Nelayan Hand Line di Desa Faer dan Letman Kecamatan Pulau-Pulau Kecil. Skripsi Fakultas Periakanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Pattimura. Ambon.
Talakua, W. 2006. Alokasi dan Simulasi Sumber Daya Usaha Perikanan Pukat Cincin di Desa Waai Kec. Salahutu. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan (INSEI).Vol 1. No. 2.
Leiwakabessy, F dan Said, H. 2002. Pengantar Metodologi Penelitian. Universitas Negeri Malang, Jakarta..
Rahardi, F, Regina kristiawati dan Nazaruddin. 2005. Agrobisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Handoko, T. 1984. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi 1. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Lampiran Dokumentasi Praktek
Peralatan PT. AKFI |
Salah Satu Fasilitas Pengangkutan |
Lanjutan Lampiran Dokumentasi.........
Proses Produksi |
Hasil Produksi PT. AKFI |
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus